Refleksi Diri ke- II
BAB 6 bagian A, B, dan C
BAB 6 bagian A, B, dan C
Kerangka
Kerja TIM Dalam Manajemen Pendidikan
A.
Transformasi
Individu Menuju TIM
Melalui pembentukan sebuah tim
kerja yang ada dalam lembaga pendidikan, kinerja mereka dapat disinergikan satu
sama lain. Dedngan demikian, lembaga pendidikan tersebut memiliki kekuatan yang
sangat besar untuk mewujudkan kreativitas dan inovasi baru serta menyelesaikan
proses pembelajaran yang lebih bermutu. Beberapa resiko yang dapat dihindari
melalui kerja tim dalam lembaga pendidikan, antara lain sbb:
1. Tanggung
jawab dalam lembaga pendidikan merupakan tanggung jawab kolektif sehingga
risiko yang mungkin timbul akan diselesaikan secara bersama-sama
2. Dengan
kecilnya bean resiko yang ditanggung, secara psikologis para staf pengajar
tidak merasa sangat terbebani sehingga energinya dapat diarahkan untuk
menciptakan perubahan dan inovasi baru dalamproses pembelajaran.
3. Keterbatasan
kemampuan dan keterampilan para staf pengajar maupun structural akan terasa
dengan adanya tim kerja
Sebuah
tim kerja tidak terbentuk secara kebetulan atau dibentuk tanpa direncanakan
sama sekali. Menurut Stonner (1995) ada 5 tahap terbentuknya suatu tim kerja
yaitu sbb:
1. Pembentukan
2. Konflik
3. Pemantapan
norma tim
4. Berprestasi
5. Pembubaran
B.
TIM
Kerja Lembaga Pendidikan Dalam Revolusi Informasi
Keberhasilan pendidikan merupakan
keberhasilan yang harus didukung oleh tim kerja yang solid antara staf pengajar
dengan staf pengajar lainnya, tenaga
administrasi, pejabat stuktural, maupun unsur lainnya. Namun saat ini,
kenyataan berkata lain. Pentingnya tim kerja (teamwork) dalam sebuah organisasi
terkait dengan penggunaan massal instrument revolusi informasi seperti pesawat
telpon, faksimil, modem, intenet, dll. Pada akhirnya, evolusi masyarakat yang
telah sampai pada pembentukan masyarakat informasi mengubah paradigm
pengelolaan semua organisasi industry, politik, hukum, pendidikan, kebudayaan,
dll kearah integrase atau kerja sama yang lebih memberi manfaat.
Melalui tim kerja semua individu
yang terlibat dalam organisasi lembaga pendidikan berate turut serta
mengembangkan suatu pemahaman bahwa didalam masyarakat informasi tidak
mungkinmasyarakat memilki suatau pemahaman seperti layaknya superman, sementara
guru hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Oleh karena itu tim
kerja dibentuk untuk mengatasi masalah berbagai kesulitan yang akan terjadi
dimasa depan termasuk dalam lembaga
pendidikan. Lembaga pendidikan benar-benar berda diujung tanduk apabila para
pelaku dalam lembaga pendidikan tersebut tidak memiliki kemampuan dalam
membangun teamwork utnk menjawab tuntutan persaingan.
C.
Pendekatan
Kompetensi Sebagai Acuan Pengembangan Karier Individu Dalam Lembaga Pendidikan
Sistem kompetensi dapat
diaplikasikan untuk nayak hal termasuk recruitment, performance appraisal,
compensation, dan training. Jika disimpulkan kompetensi dalam model ini
merupakan pelengkap terhadap deskripsi jabatan (job descriptions) atua
spesifikasi jabatan (jobspesifications)
yang dikenal selama ini.
Pendekatan kompetensi dapat
digunakan sebagai pengukur karier. Dalam hal ini menurut Lyle dan Signe Spencer
(1995)memiliki 5 skala sbb:
1. Intensitas
atau kelengkapan suatu kegiatan
2. Ukuran
dampak
3. Kompleksitas
4. Jumlah
usaha
5. Dimensi
unik
Pendekatan
kompetensi memberikan penekana kepada kemampuan individu dalam mengembangkan
karier sehingga perkembangan kariernya tidak dipengaruhi oleh organisasi.Karier
seseorang tidak dibatasi oleh jabatan sehinggat kreativitas dan inovasi sebagai
ciri organisasi modern memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan
lembaga pendidikan.