Rabu, 31 Mei 2017

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN



Refleksi Diri ke- II
BAB 6 bagian A, B, dan  C
Kerangka Kerja TIM Dalam Manajemen Pendidikan
A.    Transformasi Individu Menuju TIM
Melalui pembentukan sebuah tim kerja yang ada dalam lembaga pendidikan, kinerja mereka dapat disinergikan satu sama lain. Dedngan demikian, lembaga pendidikan tersebut memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mewujudkan kreativitas dan inovasi baru serta menyelesaikan proses pembelajaran yang lebih bermutu. Beberapa resiko yang dapat dihindari melalui kerja tim dalam lembaga pendidikan, antara lain sbb:
1.      Tanggung jawab dalam lembaga pendidikan merupakan tanggung jawab kolektif sehingga risiko yang mungkin timbul akan diselesaikan secara bersama-sama
2.      Dengan kecilnya bean resiko yang ditanggung, secara psikologis para staf pengajar tidak merasa sangat terbebani sehingga energinya dapat diarahkan untuk menciptakan perubahan dan inovasi baru dalamproses pembelajaran.
3.      Keterbatasan kemampuan dan keterampilan para staf pengajar maupun structural akan terasa dengan adanya tim kerja
Sebuah tim kerja tidak terbentuk secara kebetulan atau dibentuk tanpa direncanakan sama sekali. Menurut Stonner (1995) ada 5 tahap terbentuknya suatu tim kerja yaitu sbb:
1.      Pembentukan
2.      Konflik
3.      Pemantapan norma tim
4.      Berprestasi
5.      Pembubaran

B.     TIM Kerja Lembaga Pendidikan Dalam Revolusi Informasi
Keberhasilan pendidikan merupakan keberhasilan yang harus didukung oleh tim kerja yang solid antara staf pengajar dengan staf  pengajar lainnya, tenaga administrasi, pejabat stuktural, maupun unsur lainnya. Namun saat ini, kenyataan berkata lain. Pentingnya tim kerja (teamwork) dalam sebuah organisasi terkait dengan penggunaan massal instrument revolusi informasi seperti pesawat telpon, faksimil, modem, intenet, dll. Pada akhirnya, evolusi masyarakat yang telah sampai pada pembentukan masyarakat informasi mengubah paradigm pengelolaan semua organisasi industry, politik, hukum, pendidikan, kebudayaan, dll kearah integrase atau kerja sama yang lebih memberi manfaat.
Melalui tim kerja semua individu yang terlibat dalam organisasi lembaga pendidikan berate turut serta mengembangkan suatu pemahaman bahwa didalam masyarakat informasi tidak mungkinmasyarakat memilki suatau pemahaman seperti layaknya superman, sementara guru hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Oleh karena itu tim kerja dibentuk untuk mengatasi masalah berbagai kesulitan yang akan terjadi dimasa depan  termasuk dalam lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan benar-benar berda diujung tanduk apabila para pelaku dalam lembaga pendidikan tersebut tidak memiliki kemampuan dalam membangun teamwork utnk menjawab tuntutan persaingan.

C.    Pendekatan Kompetensi Sebagai Acuan Pengembangan Karier Individu Dalam Lembaga Pendidikan
Sistem kompetensi dapat diaplikasikan untuk nayak hal termasuk recruitment, performance appraisal, compensation, dan training. Jika disimpulkan kompetensi dalam model ini merupakan pelengkap terhadap deskripsi jabatan (job descriptions) atua spesifikasi  jabatan (jobspesifications) yang dikenal selama ini.
Pendekatan kompetensi dapat digunakan sebagai pengukur karier. Dalam hal ini menurut Lyle dan Signe Spencer (1995)memiliki 5 skala sbb:
1.      Intensitas atau kelengkapan suatu kegiatan
2.      Ukuran dampak
3.      Kompleksitas
4.      Jumlah usaha
5.      Dimensi unik
Pendekatan kompetensi memberikan penekana kepada kemampuan individu dalam mengembangkan karier sehingga perkembangan kariernya tidak dipengaruhi oleh organisasi.Karier seseorang tidak dibatasi oleh jabatan sehinggat kreativitas dan inovasi sebagai ciri organisasi modern memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan lembaga pendidikan.



Selasa, 23 Mei 2017

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN



Refleksi diri ke-V
BAB 7 bagian D & E

D.    Jenis-Jenis Pengambilan Keputusan
1.      Keputusan Berdasarkan Tingkat Kepentingan
2.      Keputusan Berdasarkan Regularitas
a.       Pengambilan keputusan terprogram
b.      Pengambilan keputusan tidak terprogram
3.      Keputusan Berdasarkan Lingkungan
a.       Pengambilan keputusan dalam kondisi pasti
b.      Pengambilan keputusan dalam kondisi berisiko
c.       Pengambilan keputusan dalam kondisi tidak pasti
d.      Pengambilan keputusan dalam kondisi konflik
E.     Sistem Informasi Fungsional Manajemen Pendidikan
Mengingat pendidikan adalah jasa (service) maka pembahasan lebih berorientasi pada manajemen jasa. Oleh karena itu, pembahasan fungsional manajemen yang diuraikan akan menekankan sebuah jasa pendidikan dapat disajikan, disampaikan, dan digunakan oleh pemakainya (pelanggan/konsumen)
1.      Sistem Informasi Manajemen Keuangan Dalam Pendidikan
Aplikasi sistem informasi manajemen keuangan digunakan untuk membantu proses pengolahan data keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan berdasarkan sistem pencatatan yang disebut akuntansi.
2.      Sistem Informasi Manajemen Operasi dalam Pendidikan
Menurut lovelock (2003: 31).Pendidikan merupakan jenis jasa yang diciptakan oleh penyedia jasa untuk disampaikan secara langsung pada pola pikir seseorang (people mind).Oleh karena itu, operasi jasa pendidikan lebih menekankan pada bagaimana menyajikan jasa pendidikan agar dapat diterima dengan mudah oleh konsumen atau pengguna jasa pendidikan (siswa/mahasiswa).
3.      Sistem Informasi Manajemen Pemasaran Jasa Pendidikan
Sistem informasi pemasaran bermanfaat untuk mengatur arus informasi pemasaran jasa pendidikan karena tingkat persaingan jasa pendidikan saat ini sangat ketat seperti halnya persaingan di dunia bisnis.
4.      Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Pendidikan
Efektivitas kegoatan sumber daya manusia bidang pendidikan akan sangat tergantung kepada kualitas informasi yang digunakan utnuk menyusun berbagai program kegiatan tersebut.Kemampuan lembaga pendidikan dalam memperoleh, menyimpan, memelihara, dan menggunakan informasi sumber daya manusia. Sistem informasi sumber daya manusia pendidikan (SIM Pendidikan) merupakan sebuah prosedur sistematis pengumpulan, penyimpanan, pemelihraan, validasi, serta pengambilan kembali data sumber daya manusia yang dibutuhkan lembaga pendidikan dalam melaksanakan kegiatan fungsi SDM dan karakteristik satuan kerja

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN



Refleksi Diri ke-IV
BAB 7 bagian A, B, dan C
Peranan SIM Dalam Pengambilan Keputusan Bidang Pendidikan
A.    Pengambilan Keputusan
Secara etimologi kata decide berasal dari Bahasa latin prefik de yang berarti  off, dan kata caedo yang berarti to cut. Hal ini berarti proses kognitif cut off yang berarti sebagai tindakan memilih diantara beberapa alternative yang mungkin.
(George R. Terry dalam Iqbal Hasan, 2002: 9) pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternative yang dihadapi dan menganbil tindakan yang meurut perhitungan adalah tindakan yang paling tepat.
Pengambilan keputusan memilki 2 fungsi yaitu (1) pangkal permulaan dari semua aktivitas manusia yang terarah dan sadar, baik secara individual maupun secara kelompok, baik secara institutional mauoun secara organisassional, (2) sesuatu yangbersifat futuristik, artinya bersangkut paut dengan hari depan, masa yang akan datang, di mana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama.
Adapun tuuan dari adanya pengambilan keputusan yaitu (1) tujuan yang bersifat tunggal, terjadi apabila keputusan hanya menyangkut satu masalah, (2) tujuan yang bersifat ganda, gterjadi apabila keputusan yang dihasilkan menyangkut lebih dari satu masalah.
Menurut Ibnu Syamsi (1995: 13) unsur-unsur dalam pengambilan keputusan yang harus dipertimbangkan adalah sbb:
1.      Tujuan dari pengambilan keputusan
2.      Identifikasi alternative-alternatif keoutusan untuk memecahkan dipilih utnuk mencapai tujuan tersebut
3.      Perhitungan mengenai factor-faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya atau diluat jangkauan manusia (uncontrollable events)
4.      Sarana atau alat untuk mengevaluasi atau mengukur hasil dari suatu pengambilan keputusan.

B.     Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan

Dalam proses pengambilan keputusan, suatu organisasi maupun lembaga pendidikan, tidak terlepas dari factor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu sbb:
1.      Posisi atau kedudukan
2.      Masalah
3.      Situasi
4.      Kondisi
5.      Tujuan
Pendapat lain mengatakan bahwa factor-fakctor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan adalah sbb:
1.      Keadaan internal organisasi
2.      Keadaan eksternal organisasi
3.      Tersedianya informasi yang diperlukan
4.      Kepribadian dan kecakapan pengambilan keputusan

C.    Pengambilan Keputusan Dalam Perspektif Informasi
Pada prinsipnya seorang pimpinan lembaga pendidikan selalu mencari perilaku yang rasional dalam bertindak.Namun, karena pimpinan tersebut memiliki keterbatasan dalam kapasitas kognitifnya, informasi, dan nilai-nilainya, harus dicari informasi terhadap alternative yang mungkin diambil serta konsekuensi yang menyertai setiap alternative.
Oengumpulan informasi dan persyaratan proses informasi terjadi melalui kapabilitas masing-masing lembaga pendidikan atau individu lembaga pendidikan tersebut. Oleh karena itu, lembaga pendidikan dapat mengatasinya dengna mengadopsi salah satu model dari model pengambilan keputusan berikut ini.
a.       Rational model
b.      Political model
c.       Anarchy model
d.      Process model


SISTEM INFORMASI MANAJEMEN



Refleksi Diri ke-III
BAB 6 bagian D&E
D.    Menciptakan Hubungan Yang Harmonis Dala Lembaga Pendidikan
Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) memiliki peran yang sangat kuat karena memiliki asset yang sangat penting dalam sebuah lembaga pendidikan. Untuk menciptakan hubungan yang harmonis, di anatar mereka perlu mengubah pla pendekatan dari pendekatan control ke pendekatan komitmen. Perbedaan pendekatan control pimpina berusaha mengawasi bahawannya dan memutuskan apa yang harus dilakukan, adapun pendekatan komitmen membangun budaya keterlibatan yang tinggi (high involvement culture) yang dicapai melalui pemberdayaan  (empowerment). Untk menciptakan hubungan yang harmonis dalam lembaga pendidikan ada 2 arah dan menciptakan  sistmen pengembangan SDM yang terpadu.
1.      Menciptakan Komunikasi yang Harmonis
2.      Menciptakan Sistem Pengembangan SDM Terpadu

E.     Konflik Dalam Lembaga Pendidikan Sebagai Perilaku Komunikasi
Dalam realita, konflik merupakan sesuatu yang sulit dihindari karena berkaitan erat dengan proses interaksi manusia. Istilah konflik berasal dari Bahasa latin, com yang berarti bersama dan figere berarti melanggar. Dengan demikian, konflik merupakan ekspresi pertikaian individu yag diekspresikan, diingat dan dialami (pace&Faules, 1994: 249).
Berdasarkan hal di atas, ada 2 hal yang harus diperhatikan dalam konflik.Pertama, konflik terjadi karena adanya interaksi yang disebut komunikasi. Kedua, konflik tidak selamanya berkonotasi buruk tetapi bisa menjadi sumber pengalaman positif
1.      Konflik Dalam Lembaga Pendidikan
Adapun konflik yang terdapat dalam lembaga pendidikan mucnul dalam berbagai tingkatan manajemen sesuai dengan struktur lembaga pendidikan tersebut.Ada 3 bentuk konflik yang terdapat dalam lembaga yaitu.
1.      Konflik pribadi (personal conflict)
2.      Konflik antarpribadi (interpersonal conflict)
3.      Konflik lembaga (institutional conflict)
2.      Sumber-Sumber Konflik Dalam Lembaga Pendidikan
1.      Lingkungan eksternal
2.      Ukuran (size)
3.      Teknologi (Technology)
4.      Tujuan (goals)
5.      Struktur (structure)
3.      Dampak konflik
Melemahnya hungan antarpribadi, timbulnya sikap marah, perasaan terluka, serta keterasingan.Inilah yangmerupakan dampak negative dari terjadinya konflik.Namun di samoing itu konflik juga dapat membawa dampak positif yaitu meningkatkan interaksi, menumbuhkan kreativitas, menjembatani penyelesaian masalah.Mendorong penyampaian infirmasi anatrindividu, dan menguji kekuatan ide.
4.      Menangani Konfli Dalam Lembaga Pendidikan
Konflik yang biasa terjadi adalah konflik horizontal dan vertical.konflik horizontal terjadi atara tenaga kependidikan, sedangkan dalam menangani konflik vertikal, pimpinan harus lebih peduli terhadap bawahannya, dan meningkatkan partisipasi setiap anggota organisasi.